Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts
Showing posts with label BIOGRAFI. Show all posts

Monday, July 10, 2017

BIOGRAFI SUNAN KALIJAGA

Selamat malam sahabat Lily.. bagaimana kabarnya? Semoga kalian baik-baik saja yah.... Kali ini saya akan memposting tentang biografi sunan kalijaga. Siapa yang tidak mengenal sunan kalijaga. Seseorang yang amat sangat memikirkan rakyat kecil (berandal loka jaya). Yuk silakan disimak
BIOGRAFI SUNAN KALIJAGA
from wikipedia

Nama aslinya adalah Joko Said yang dilahirkan sekitar tahun 1450 M. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban. Arya Wilatikta ini adalah keturunan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe. Riwayat masyhur mengatakan bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Joko Said. Namun sebagai Muslim, ia dikenal kejam dan sangat taklid kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu. Ia menetapkan pajak tinggi kepada rakyat. Joko Said muda yang tidak setuju pada segala kebijakan Ayahnya sebagai Adipati sering membangkang pada kebijakan-kebijakan ayahnya. Pembangkangan Joko Said kepada ayahnya mencapai puncaknya saat ia membongkar lumbung kadipaten dan membagi-bagikan padi dari dalam lumbung kepada rakyat Tuban yang saat itu dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang. Karena tindakannya itu, Ayahnya kemudian ‘menggelar sidang’ untuk mengadili Joko Said dan menanyakan alasan perbuatannya. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Joko Said untuk mengatakan pada ayahnya bahwa, karena alasan ajaran agama, ia sangat menentang kebijakan ayahnya untuk menumpuk makanan di dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan.
Ayahnya tidak dapat menerima alasannya ini karena menganggap Joko Said ingin mengguruinya dalam masalah agama. Karena itu, Ayahnya kemudian mengusirnya keluar dari istana kadipaten seraya mengatakan bahwa ia baru boleh pulang jika sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Maksud dari ‘menggetarkan seisi Tuban’ di sini ialah bilamana ia sudah memiliki banyak ilmu agama dan dikenal luas masyarakat karena ilmunya. Riwayat masyhur kemudian menceritakan bahwa setelah diusir dari istana kadipaten, Joko Said berubah menjadi seorang perampok yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur. Sebagai Perampok, Joko Said selalu ‘memilih’ korbannya dengan seksama. Ia hanya merampok orang kaya yang tak mau mengeluarkan zakat dan sedekah. Dari hasil rampokannya itu, sebagian besarnya selalu ia bagi-bagikan kepada orang miskin. Kisah ini mungkin mirip dengan cerita Robin Hood di Inggris. Namun itulah riwayat masyhur tentang beliau. Diperkirakan saat menjadi perampok inilah, ia diberi gelar ‘Lokajaya’ artinya kurang lebih ‘Perampok Budiman’. Semuanya berubah saat Lokajaya alias Joko Said bertemu dengan seorang ulama , Syekh Maulana Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang. Sunan Bonang inilah yang kemudian mernyadarkannya bahwa perbuatan baik tak dapat diawali dengan perbuatan buruk –sesuatu yang haq tak dapat dicampuradukkan dengan sesuatu yang batil sehingga Joko Said alias Lokajaya bertobat dan berhenti menjadi perampok. Joko Said kemudian berguru kepada Sunan Bonang hingga akhirnya dikenal sebagai ulama dengan gelar ‘Sunan Kalijaga’.
Sejarah Nama 'Kalijaga'
Pertanyaan ini masih menjadi misteri dan bahan silang pendapat di antara para pakar sejarah hingga hari ini. Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Ini dihubungkan dengan kebiasaan wong Cerbon untuk menggelari seseorang dengan daerah asalnya – seperti gelar Sunan Gunung Jati untuk Syekh Syarif Hidayatullah, karena beliau tinggal di kaki Gunung Jati. Fakta menunjukan bahwa ternyata tidak ada ‘kali’ di sekitar dusun Kalijaga sebagai ciri khas dusun itu. Padahal, tempat-tempat di Jawa umumnya dinamai dengan sesuatu yang menjadi ciri khas tempat itu. Misalnya nama Cirebon yang disebabkan banyaknya rebon (udang), atau nama Pekalongan karena banyaknya kalong (Kelelawar). Logikanya, nama ‘Dusun Kalijaga’ itu justru muncul setelah Sunan Kalijaga sendiri tinggal di dusun itu. Karena itu, klaim Masyarakat Cirebon ini kurang dapat diterima.
Riwayat lain datang dari kalangan Jawa Mistik (Kejawen). Mereka mengaitkan nama ini dengan kesukaan wali ini berendam di sungai (kali) sehingga nampak seperti orang yang sedang “jaga kali”. Riwayat Kejawen lainnya menyebut nama ini muncul karena Joko Said pernah disuruh bertapa di tepi kali oleh Sunan Bonang selama sepuluh tahun. Pendapat yang terakhir ini yang paling populer. Pendapat Ini bahkan diangkat dalam film ‘Sunan Kalijaga’ dan ‘Walisongo’ pada tahun 80-an. Saya sendiri kurang sepaham dengan kedua pendapat ini. Secara sintaksis, dalam tata bahasa-bahasa di Pulau Jawa (Sunda dan Jawa) dan segala dialeknya, bila ada frase yang menempatkan kata benda di depan kata kerja, itu berarti bahwa kata benda tersebut berlaku sebagai subjek yang menjadi pelaku dari kata kerja yang mengikutinya. Sehingga bila ada frase ‘kali jaga’ atau ‘kali jogo’ berarti ada ‘sebuah kali yang menjaga sesuatu’. Ini tentu sangat janggal dan tidak masuk akal. Bila benar bahwa nama itu diperoleh dari kebiasaan Sang Sunan kungkum di kali atau karena beliau pernah menjaga sebuah kali selama sepuluh tahun non-stop (seperti dalam film), maka seharusnya namanya ialah “Sunan Jogo Kali” atau “Sunan Jaga Kali”.
Kemudian secara logika, silakan anda pikirkan masak-masak. Mungkinkah seorang da’i menghabiskan waktu dengan kungkum-kungkum di sungai sepanjang hari? Tentu saja tidak. Sebagai da’i yang mencintai Islam dan Syi’ar-nya, tentu ada banyak hal berguna yang dapat beliau lakukan. Riwayat Kejawen bahwa beliau bertapa selama sepuluh tahun non-stop di pinggir kali juga merupakan riwayat yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa seorang ulama saleh terus-menerus bertapa tanpa melaksanakan shalat, puasa, bahkan tanpa makan dan minum? Karena itu, dalam pendapat saya, kedua riwayat itu ialah riwayat batil dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Demikian uraian tentang biografi sunan kalijaga, semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan kita.

Share:

Wednesday, December 28, 2016

BIOGRAPHY OF ABDUL WAHID HASYIM

 BIOGRAPHY OF ABDUL WAHID HASYIM

Good morning friend Lily ... this morning I will post about the biography of ABDUL WAHID HASYIM. ABDUL WAHID HASYIM mentioned, too, that he is the youngest member of the 62 members BPUPKI. He also figures the youngest of nine national leaders who signed the charter Djakarta, an agreement that the birth of the proclamation and the constitution of the State. After independence, in September 1945, she was appointed as Minister of State. Continues at Sjahrir Cabinet in 1946, he also became Minister.
 happy reading and hopefully useful.
 
BIOGRAPHY OF ABDUL WAHID HASYIM

http://ansorjateng.net


Name: Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim
Date of Birth: June 1, 1914
Place of birth: Jombang, East Java, the Indies
Star sign: Gemini
Died: Cimahi, West Java, 19 April 1953 (age 38)
Tomb: Tebuireng, Jombang
Islam
Indonesian citizens
Children: 6

Abdul Wahid Hasyim was born in Jombang, East Java, on June 1, 1914, from the couple K.H. Hashim Asy`ari d an Nyai Nafiqah bint K Ilyas. His father was the founder of a religious organization Nahdlotul Ulama. Wahid Hasyim intelligence already appears since a very young age. At the age of 7 years he has khatam Al-Qur`an to receive direct guidance of his father. Other education he gained in Pesantren Tebu Ireng. At age 15 he was already familiar with the Latin alphabet, mastering the Dutch language and English without never attended school at all colonial. In the biography Abdul Wahid Hasyim said that at age 18 he Hajj once lived for two years in Mecca to deepen their religious knowledge.

Coming home from the holy land, the fifth son of K.H. Hashim active as`ari organized which was founded by his father. In 1938 he became NU branches Cukir and continues to climb, in 1940 became the NU central board level with leading Ma`arif department in charge of education. He, a broad-minded religious leaders far ahead across formal boundaries of religion. His leadership kept honed and proven trustworthiness him to become chairman of the Shura Council Muslimin Indonesia (Masjumi) on October 24, 1943. In the field of education, caress establish Islamic High School in Jakarta in 1944, which management is delegated to KH. A Kahar Muzakkir. In his biography of Abdul Wahid Hasyim noted that ahead of independence in 1945, he became a member BPUPKI and PPKI.

The father of the late President of the Republic of Indonesia to 4, K.H. Abdurrahman Wahid or Gus Dur is a known moderate cleric, substantive and inclusive. The formulation of the first principle of Pancasila text `` Belief in God Esa`` is part of the fruit thought to replace the phrase `` Running Shari'a obligation to its adherents. 'Reading the biography of Abdul Wahid Hasyim, we will discover how at a young age, he has a very broad insight on the thinking of religion, state, educational, political, social and of course also about the boarding school that became the basis of the NU.

In the biography of Abdul Wahid Hasyim also mentioned that he is the youngest member of the 62 members BPUPKI. He also figures the youngest of nine national leaders who signed the charter Djakarta, an agreement that the birth of the proclamation and the constitution of the State. After independence, in September 1945, she was appointed as Minister of State. Continues at Sjahrir Cabinet in 1946, he also became Minister. In 1950 in the Cabinet Hatta, Natsir and Sukiman He was appointed Minister of Religion. Attention on education is enormous, and in 950 he decreed the establishment of Islamic Religion (PTAIN), which became the forerunner IAIN or UIN.

In 1953, precisely on April 18, he made his way to attend a meeting Sumedang NU accompanied by his son, Abdurrahman Wahid or Gus Dur. Arriving in Cimindi, the car carrying skid and can not be controlled by the driver to hit a truck which resulted K.H. Wahid Hasyim thrown out. The accident led him to coma and eventually died on 19 April 1953 at the age of 39 years young. His body was buried in Pesantren Tebu Ireng Jombang. In a review Biography Abdul Wahid Hasyim explained, he received the grace of National Hero accordance devotion best in the Republic of Indonesia.    

BACA JUGA BIOGRAFI SELANJUTNYA


BIOGRAFI SUNAN KALIJAGA

Share:

Tuesday, November 8, 2016

BIOGRAFI KI HAJAR DEWANTARA

Selamat pagi semua... kali ini saya akan memposting biografi Ki Hajar Dewantara. yuuk langsung di baca saja 😊

Biografi Ki Hajar Dewantara - Pahlawan Indonesia.

source google


Tokoh berikut ini dikenal sebagai pelopor pendidikan untuk masyarakat pribumi di Indonesia ketika masih dalam masa penjajahan Kolonial Belanda. Mengenai profil Ki Hajar Dewantara sendiri, beliau terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Beliau sendiri lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889, Hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau sendiri terlahir dari keluarga Bangsawan, ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, yang merupakan cucu dari Pakualam III. Terlahir sebagai bangsawan maka beliau berhak memperoleh pendidikan untuk para kaum bangsawan.
- Mulai Bersekolah dan Menjadi Wartawan
Ia pertama kali bersekolah di ELS yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda dan juga kaum bangsawan. Selepas dari ELS ia kemudian melanjutkan pendidikannya di STOVIA yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di kota Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda, yang kini dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Meskipun bersekolah di STOVIA, Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat sebab ia menderita sakit ketika itu.
Ki Hadjar Dewantara cenderung lebih tertarik dalam dunia jurnalistik atau tulis-menulis, hal ini dibuktikan dengan bekerja sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Gaya penulisan Ki Hadjar Dewantara pun cenderung tajam mencerminkan semangat anti kolonial. Seperti yang ia tuliskan berikut ini dalam surat kabar De Expres pimpinan Douwes Dekker :
"..Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya".
Tulisan tersebut kemudian menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda kala itu yang mengakibatkan Ki Hadjar Dewantara ditangkap dan kemudian ia diasingkan ke pulau Bangka dimana pengasingannya atas permintaannya sendiri. Pengasingan itu juga mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal sebagai 'Tiga Serangkai'. Ketiganya kemudian diasingkan di Belanda oleh pemerintah Kolonial.
- Masuk Organisasi Budi Utomo
Berdirinya organisasi Budi Utomo sebagai organisasi sosial dan politik kemudian mendorong Ki Hadjar Dewantara untuk bergabung didalamnya, Di Budi Utomo ia berperan sebagai propaganda dalam menyadarkan masyarakat pribumi tentang pentingnya semangat kebersamaan dan persatuan sebagai bangsa Indonesia. Munculnya Douwes Dekker yang kemudian mengajak Ki Hadjar Dewantara untuk mendirikan organisasi yang bernama Indische Partij yang terkenal. Di pengasingannya di Belanda kemudian Ki Hadjar Dewantara mulai bercita-bercita untuk memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. iaberhasil mendapatkan ijazah pendidikan yang dikenal dengan nama Europeesche Akte atau Ijazah pendidikan yang bergengsi di belanda. Ijazah inilah yang membantu beliau untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang akan ia buat di Indonesia. Di Belanda pula ia memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri. Pada tahun 1913, Ki Hadjar Dewantara kemudian mempersunting seorang wanita keturunan bangsawan yang bernama Raden Ajeng Sutartinah yang merupakan putri paku alaman, Yogyakarta. Dari pernikahannya dengan R.A Sutartinah, Ki Hadjar Dewantara kemudian dikaruniai dua orang anak bernama Ni Sutapi Asti dan Ki Subroto Haryomataram. Selama di pengasingannya, istrinya selalu mendampingi dan membantu segala kegiatan suaminya terutama dalam hal pendidikan.
- Kembali Ke Indonesia dan Mendirikan Taman Siswa
Kemudian pada tahun 1919, ia kembali ke Indonesia dan langsung bergabung sebagai guru di sekolah yang didirikan oleh saudaranya. Pengalaman mengajar yang ia terima di sekolah tersebut kemudian digunakannya untuk membuat sebuah konsep baru mengenai metode pengajaran pada sekolah yang ia dirikan sendiri pada tanggal 3 Juli 1922, sekolah tersebut bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa yang kemudian kita kenal sebagai Taman Siswa. Di usianya yang menanjak umur 40 tahun, tokoh yang dikenal dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat resmi mengubah namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, hal ini ia maksudkan agar ia dapat dekat dengan rakyat pribumi ketika itu.
- Semboyan Ki Hadjar Dewantara
Ia pun juga membuat semboyan yang terkenal yang sampai sekarang dipakai dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu :
·  Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi contoh).
·  Ing madyo mangun karso, (di tengah memberi semangat).
·  Tut Wuri Handayani, (di belakang memberi dorongan).
- Penghargaan Pemerintah Kepada Ki Hadjar Dewantara
Selepas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, Ki Hadjar Dewantara kemudian diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri pengajaran Indonesia yang kini dikenal dengan nama Menteri Pendidikan. Berkat jaa-jasanya, ia kemudian dianugerahi Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada. Selain itu ia juga dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh presiden Soekarno ketika itu atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan bangsa Indonesia. Selain itu, pemerintah juga menetapkan tanggal kelahiran beliau yakni tanggal 2 Mei diperingati setiap tahun sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hadjar Dewantara Wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Wajah beliau diabadikan pemerintah kedalam uang pecahan sebesar 20.000 rupiah.
Share:

Tuesday, January 5, 2016

BIOGRAFI PAHLAWAN



RADEN AJENG KARTINI


                                                   
Every April 21 people in indonesia commemorate the kartini day. It is beautiful day for the woman because we celebrate the birth of great lady R.A. Kartini. Everyone knows who Kartini is. She is our national heroine and a great lady with the bright idea.
Kartini was born in 1879 April 21 in mayong jepara. Her father was Rama Sosroningrat a Wedana (assistant of head of regency) in mayong. Her mother, Ma Ngasirah was a girl from Teluk Awur village in Jepara as the daughter of a noble family, she felt luck because she got more than the ordinary people got. She got better education than other children. In november 12 1903 she married adipati djoyodiningrat, the head of rembang regency. According to javanese tradition Kartini had to follow her husband. Then she moved to rembang.
In September 13 1904 she gave a birth to her son. His name was Singgih. But after giving birth to a son, her condition was getting worse and she finally passed away on september 17 1904 on her 25 years old.
Now Kartini has gone. but her spirit and dream will always be in our heart. Nowadays Indonesian women progress is influenced by kartini's spirit stated on collection of letter "habis gelap terbitlah terang" or  from the dusk to the dawn.
Share:

BIOGRAFI BAPAK KOPERASI INDONESIA

BIOGRAPHY MOHAMMAD HATTA
Mohammad Hatta is one hero who greatly contributed to the independence of Indonesia. He is known as the proclaimer. He was born on August 12, 1902, precisely at the high hill of West Sumatra. He is better known by the name of Bung Hatta. Mohammad Hatta was born of a mother who named Siti Saleha and a father named Muhammad Jamil. Hatta was raised in a religious environment. His grandfather is a cleric who founded a mosque in Batuhampar. Her family background that merchant. Belonging to the family of his mother a successful trader.
Mohammad Hatta studied in Europese Largere School (ELS) in New York City who currently renamed SMAN I Padang. He also studied at the Meer Uirgebreid Lagere (MULO) in Padang. He also studied related to trade that Handel Middlebare School (High School of Commerce) and the last one he was educated in the Netherlands, namely in the Netherlands Handelshogeschool. This is where he was awarded Drs. Religious knowledge are also not spared from the education which he passes. He even studied religion by scholars who are in Indonesia, among others, Abdullah Ahmad, Muhammad Jamil Jambek, and several other prominent scholars.
Mohammad Hatta not only serves as a proclaimer, but he is also active in the field of organization and politics. His role in politics begins He was elected as treasurer Jong Sumatranen Bond in Padang. Political knowledge has grown very rapidly when he often attend political meetings. He also joined a social organization. The organization called Indische Vereeniging. This organization eventually turned into a political organization. This happens because of the Ki Hajar Dewantara which has considerable influence in the development of the organization.
Mohammad Hatta became vice chairman of the preparation of independence in August 1945. The event was chaired by Sukarno. At the time of Muhammad Hatta ordered by Sukarno to write the text of the proclamation to be read out at the event. However, he still wants the manuscript was written by Sukarno. Finally, Soekarno Hatta typed and sent to join the signed copy of the proclamation.
Share:

Saturday, January 2, 2016

BIOGRAFI HARUN AR-RASYID



Biografi Harun Ar-Rasyid

search from google
Harun Ar-Rasyid terkenal sebagai salah satu pemimpin terbesar yang pernah hidup di masa kejayaan islam. Khalifah Harun Ar-Rasyid lahir di Rayy pada tahun 766 dan wafat pada tanggal 24 Maret 809, di Thus, Khurasan. Harun Ar-Rasyid adalah kalifah kelima dari kekalifahan Abbasiyah dan memerintah antara tahun 786 hingga 803.
Ayahnya bernama Muhammad Al-Mahdi, khalifah yang ketiga dan kakaknya.  Musa Al-Hadi adalah kalifah yang ketiga. Ibunya Jurasyiyah dijuluki Khayzuran berasal dari Yaman. Meski berasal dari dinasti Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid dikenal dekat dengan keluarga Barmaki dari Persia (Iran).
Di masa mudanya, Harun banyak belajar dari Yahya ibn Khalid Al-Barmak. Era pemerintahan Harun, yang dilanjutkan oleh Ma'mun Ar-Rasyid, dikenal sebagai masa keemasan Islam (The Golden Age of Islam), di mana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia.
Harun Al-Rasyid Bukanlah Khalifah Yang Suka Foya-Foya!! Banyak orang meyakini bahwa khalifah Bani ‘Abbas, Harun al-Rasyid adalah seorang yang suka hura-hura dan foya-foya, hidup dalam gelamour kehidupan. Namun sebenarnya, tidaklah demikian. Harun al-Rasyid amat berbeda dari kondisi seperti itu sama sekali. Beliau adalah Abu Ja’far, Harun bin al-Mahdi, Muhammad bin al-Manshur, salah seorang khalifah Daulah Bani ‘Abbasiah di Iraq, yang lahir tahun 148 H. Beliau menjadi khalifah menggantikan kakaknya, al-Hadi pada tahun 170 H.



Share: